JABAR TODAY. JAKARTA — Ramalan mengenai kiamat atau Rapture yang dikaitkan dengan pendeta asal Afrika Selatan, Joshua Mhlakela, kembali ramai diperbincangkan di media sosial.
Nama Mhlakela menjadi sorotan setelah pernyataannya mengenai kedatangan kembali Yesus dan peristiwa Rapture atau pengangkatan orang-orang percaya menyebar luas di berbagai platform media sosial.
Dalam sebuah wawancara yang kemudian viral, Mhlakela mengaku mendapatkan sebuah penglihatan atau pesan ilahi yang menurutnya berkaitan dengan kedatangan Yesus. Ia kemudian mengaitkannya dengan tanggal 23 atau 24 September 2025.
Isu tersebut semakin meluas karena tanggal yang disebut berdekatan dengan Rosh Hashanah atau Feast of Trumpets, sebuah hari raya Yahudi. Klaim tersebut kemudian menjadi bahan perbincangan di berbagai komunitas keagamaan maupun pengguna media sosial.
Media seperti The Guardian melaporkan bahwa pembahasan mengenai ramalan tersebut berkembang pesat di TikTok melalui konten yang menggunakan istilah #RaptureTok. Sebagian pengguna membahasnya secara serius, sementara sebagian lainnya menjadikannya bahan lelucon dan satire.
Bahkan, sejumlah pemberitaan pada saat itu menyebut adanya orang yang mengambil keputusan ekstrem karena mempercayai ramalan tersebut, termasuk menjual kendaraan atau meninggalkan pekerjaan. Namun, tindakan tersebut merupakan keputusan individu dan bukan bukti bahwa ramalan tersebut benar.
Yang perlu diluruskan, 23–24 September yang dimaksud adalah September 2025, bukan September 2026. Setelah tanggal tersebut berlalu tanpa terjadinya peristiwa seperti yang diprediksi, ramalan tersebut kembali menjadi bahan pemberitaan dan perdebatan di media.
Sejumlah laporan juga menyebut bahwa setelah ramalan tersebut tidak terjadi sesuai tanggal yang disampaikan, muncul respons dari beberapa tokoh agama yang sebelumnya ikut menyebarkan prediksi tersebut. Salah satunya menyampaikan permintaan maaf dan menyatakan tidak akan lagi menetapkan tanggal tertentu untuk peristiwa tersebut.
Meski demikian, isu tersebut kembali muncul di media sosial pada September 2026. Karena itu, masyarakat perlu membedakan antara berita mengenai ramalan yang kembali viral dengan klaim bahwa kiamat benar-benar akan terjadi pada tanggal tertentu.
Hingga saat ini, tidak ada dasar ilmiah yang menunjukkan bahwa dunia akan berakhir pada 23 atau 24 September 2026. Klaim mengenai tanggal kiamat tersebut merupakan ramalan keagamaan yang dikaitkan dengan pernyataan pribadi Mhlakela, bukan prediksi ilmiah.
Fenomena ini sekaligus menunjukkan bagaimana sebuah klaim lama dapat kembali viral ketika potongan video atau konten lama disebarkan ulang tanpa konteks tanggal dan kronologi lengkap.
Jadi, informasi yang beredar perlu dibaca dengan hati-hati: yang kembali viral pada September 2026 adalah ramalan lama tentang 23–24 September 2025, bukan prediksi baru bahwa kiamat akan terjadi pada 23–24 September 2026.















