Jabar Today – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian publik dan pelaku ekonomi nasional menjelang akhir Mei 2026. Sejumlah analis memprediksi rupiah masih berpotensi mengalami pelemahan akibat tekanan eksternal global dan meningkatnya permintaan dolar AS di pasar internasional.
Berdasarkan perdagangan terbaru, rupiah tercatat bergerak di kisaran Rp16.400 hingga Rp16.600 per dolar AS. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh penguatan indeks dolar Amerika Serikat, kebijakan suku bunga bank sentral AS The Federal Reserve, hingga ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.
Pengamat pasar uang menilai sentimen global masih menjadi faktor utama tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Selain itu, meningkatnya kebutuhan impor dan arus keluar modal asing juga disebut turut memengaruhi stabilitas rupiah dalam beberapa pekan terakhir.
Bank Indonesia sendiri menyatakan terus melakukan langkah stabilisasi pasar melalui intervensi pasar valuta asing dan penguatan kebijakan moneter guna menjaga kestabilan nilai tukar rupiah. Pemerintah juga optimistis fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat menghadapi tekanan global.
Ramainya pembahasan soal rupiah ini juga terjadi di media sosial, terutama di kalangan investor, pelaku usaha impor, dan masyarakat yang mengikuti perkembangan ekonomi nasional. Banyak pihak berharap nilai tukar rupiah dapat kembali stabil memasuki pertengahan tahun 2026.
















