Bandung — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjadi perhatian publik setelah turun langsung menemui orang tua seorang siswi yang diduga menjadi korban pemotongan rambut paksa di lingkungan sekolah. Kasus tersebut viral di media sosial dan memicu perdebatan luas mengenai disiplin sekolah, hak siswa, serta pendekatan pendidikan yang dinilai lebih manusiawi.
Peristiwa itu bermula dari beredarnya video dan unggahan di Instagram yang memperlihatkan seorang siswi sekolah menengah menangis setelah rambutnya dipotong oleh pihak sekolah karena dianggap melanggar aturan kerapihan. Video tersebut kemudian menyebar luas dan menuai berbagai reaksi dari masyarakat. Banyak warganet menilai tindakan tersebut berlebihan dan dapat berdampak pada kondisi psikologis siswa.
Menanggapi viralnya kasus tersebut, Dedi Mulyadi langsung mendatangi kediaman keluarga siswi di wilayah Kabupaten Subang pada Kamis (8/5/2026). Dalam pertemuan itu, Dedi berbincang langsung dengan orang tua siswi dan mendengarkan kronologi kejadian dari pihak keluarga.
Dalam keterangannya kepada media, Dedi menegaskan bahwa penegakan disiplin di sekolah tetap penting, namun harus dilakukan dengan pendekatan edukatif tanpa mempermalukan siswa di depan umum.
“Sekolah harus mendidik dengan kasih sayang. Kalau ada pelanggaran aturan, pembinaan itu penting, tapi jangan sampai membuat anak merasa dipermalukan atau trauma,” ujar Dedi Mulyadi.
Dedi juga meminta Dinas Pendidikan Jawa Barat melakukan evaluasi terhadap mekanisme pembinaan siswa di sekolah-sekolah agar kejadian serupa tidak terulang. Ia menilai pendekatan pendidikan modern harus lebih mengedepankan komunikasi dan pendampingan psikologis dibanding hukuman fisik atau tindakan yang dapat mempermalukan siswa.
Sementara itu, pihak sekolah menyampaikan bahwa tindakan pemotongan rambut dilakukan sebagai bentuk penegakan tata tertib yang telah disepakati bersama siswa dan orang tua. Namun pihak sekolah mengakui proses penanganan terhadap siswi tersebut menjadi evaluasi internal setelah menuai kritik publik.
Kasus ini kemudian memicu diskusi luas di media sosial mengenai batas kewenangan sekolah dalam menerapkan aturan disiplin kepada siswa. Sejumlah pemerhati pendidikan menilai sekolah perlu mengedepankan pendekatan restoratif dan konseling agar siswa tetap merasa aman serta dihargai di lingkungan pendidikan.
Di berbagai platform media sosial, nama Dedi Mulyadi juga ramai diperbincangkan karena dianggap responsif terhadap isu sosial yang menyangkut anak dan pendidikan. Banyak warganet memuji langkah cepat gubernur menemui langsung keluarga korban untuk meredam polemik sekaligus mencari solusi yang lebih bijak dalam dunia pendidikan Jawa Barat.





















